SEJARAH

Ide kadang berawal dari keterdesakan. Terdengar klasik memang. Namun faktanya, banyak orang yang benaknya menjadi subur dengan beragam ide segar kala diuji dengan kesempitan. Banyak orang yang otaknya berputar lebih cepat kala dia menghadapi keadaan yang sedang “tak bersahabat”.

Setidaknya, itu yang pernah dialami Hj. Somiyah Yasir. Bersuamikan PNS biasa—lebih-lebih ketika gaji PNS di era 1970-an sangat kecil—, tentu perhitungan anggaran rumah tangganya sebatas apa yang tertera di struk gaji. Padahal, dia harus membantu suaminya dalam menghidupi keempat anaknya yang semuanya kuliah.

Harapan untuk menciptakan penghasilan tambahan pun mewujud dalam industri rumahan. Keterbatasan skill membuatnya menjatuhkan pilihan untuk menjual beragam produk makanan. Ya, apa sih yang dilakukan wanita pada zaman itu, selain seputar pekerjaan dapur—meski jangan salah, skill semacam ini justru demikian mahal di masa sekarang. Sejak 1976, beragam panganan/camilan seperti peyek, keripik pedas, pastel kering, kacang bawang, cumi-cumi, dan sebagainya, mulai menghiasi lapak sederhananya di Jl. Dewi Sartika 8 Purworejo.

Dari membuka lapak di samping rumah, lama-kelamaan, sekitar tahun 1980, ia bisa membuka toko kelontong di depan rumah yang tak bisa dibilang kecil untuk ukuran waktu itu. Saat swalayan dan minimarket belum ada, saat ritel besar semacam Alfamart dan Indomaret belum hadir di sebuah kota kecil bernama Purworejo.

Seiring perjalanan waktu dan menurunnya kondisi kesehatan karena usia, beragam panganan itu mengerucut menjadi Peyek Tumpi saja. Variannya berupa peyek kacang dan peyek teri masih menghiasi toko kelontongnya yang bertambah komplet.

Zaman terus berganti, “penyakit” tua yang merupakan ketetapan ilahi itu pun datang. Karena kondisi fisik yang melemah, sekitar tahun 2005, produksi Peyek Tumpi berhenti. Waktu itu, tak ada putra-putrinya yang meneruskan usaha peyeknya. Tujuh tahun kemudian, salah seorang cucunya berupaya kembali menghidupkan usaha Peyek Tumpi.

Setelah melalui sekian “uji lab” dari Hj. Somiyah Yasir, Peyek Tumpi pun bangun dari tidurnya. Dikemas dengan tampilan yang lebih elegan, Peyek Tumpi pun kembali hadir menghiasi khazanah panganan khas Purworejo.

Sejujurnya, jika dilihat dari wujudnya, Peyek Tumpi bukanlah barang baru. Apalagi tumpi sebenarnya lebih ke proses, tidak merujuk ke nama jenis. Namun, ini memang soal citarasa. Citarasa yang tercipta dari sebuah proses panjang. Semoga kami bisa terus mempertahankannya. Salam peyek!